Kamis, 13 Juni 2013

10 Kesalahan Istri Terhadap Suami

10 Kesalahan Istri Terhadap Suami

1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.
Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.
Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
1. Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
4. Lalai dalam melayani suami
5. Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
7. Keluar rumah tanpa izin suami
8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.

4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.”
Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Ajaib !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi , apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya,  maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat,  satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan,  masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu,  bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri,  jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)
7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.
9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.
Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang terkadang dilakukan kepada suami yang seyogyanya kita hindari agar suami semakin sayang pada setiap istri. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.


Selasa, 11 Juni 2013

Isteri Nusyuz Berdosa Besar

بسم الله ، والحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله وصحبه ومن والاه
(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Perkahwinan adalah jalinan ikatan yang sah di antara lelaki dan perempuan untuk menjadi suami isteri. Dengan adanya ikatan perkahwinan ini, terdapat hak-hak yang perlu dijaga dan
ditunaikan oleh pasangan suami isteri. Antara hak-hak isteri ke atas suami ialah suami bertanggungjawab memberi nafkah kepada isteri yang meliputi keperluan seharian seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Bagi isteri pula, terdapat hak suami ke atasnya yang wajibvdilaksanakan iaitu isteri wajib taat dan melakukan segala perintah suaminya selagi perintahnya itu tidak bertentangan dengan hukum syara‘.

Perintah Supaya Isteri Mentaati Suami

Suami merupakan pemimpin dan ketua bagi sebuah keluarga, yang wajib dipatuhi dan berdosa besar jika isteri mengingkari dan menyalahi perintahnya itu. Isteri wajib menunaikan hak suami ke atasnya iaitu wajib taat kepada suami dan melakukan segala perintah suaminya dengan syarat perintah tersebut tidak bertentangan dengan hukum syara’.

Perintah untuk mentaati suami sebagai pemimpin keluarga ada disebut di dalam al-Qur’an, dan juga dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya:

   
Quote
“Jika aku boleh memerintahkan supaya seseorang sujud kepada orang lain, nescaya akan aku perintahkan seorang perempuan sujud kepada suaminya.”



(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Dari hadis di atas, dapat difahami bahawa isteri mempunyai kewajipan dan tanggungjawab yang besar terhadap suaminya iaitu ketaatan dalam menjalankan hak-hak suaminya sehinggakan kalau dibenarkan sujud kepada manusia, nescaya kaum isterilah yang diperintahkan untuk sujud kepada para suaminya. Tetapi dalam Islam, sujud hanya dibolehkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala sahaja dan tidak pada yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai dengan ganjaran bagi isteri yang mentaati suami dan menunaikan hak-hak suami yang diwajibkan ke atasnya:

Maksudnya:
Quote

    “Apabila seorang perempuan telah mengerjakan sembahyang lima waktu, mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka masuklah (ke dalam syurga) dari mana-mana pintu syurga yang dia kehendaki.”



(Hadis riwayat ath-Thabarani)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahawa Islam memerintahkan seorang isteri itu untuk menunaikan hak-hak suami yang diwajibkan ke atasnya, antaranya mentaati suami. Isteri yang tidak taat pada suaminya bererti dia tidak menjaga hak suami dan perbuatannya itu boleh membawa kepada nusyuz.

Pengertian Nusyuz

Nusyuz bererti keluar dari ketaatan. Para ulama asy-Syafi‘eyah mentakrifkan nusyuz seorang isteri ialah keluar dari (melakukan) ketaatan yang wajib terhadap suaminya.

Antara perkara-perkara yang menunjukkan ketidaktaatan kepada suami yang dianggap nusyuz itu ialah sebagaimana berikut:

1. Keluar dari rumah tanpa keizinan suaminya. Terkecuali daripada keadaan ini apabila isteri keluar berjumpa qadhi untuk menuntut hak, mencari nafkah apabila suami tidak berkemampuan memberi nafkah kepadanya, meminta fatwa atau hukum jika sekiranya suaminya bukan seorang faqih dan suami tidak memintakan fatwa untuknya.

Jika seorang isteri meminta izin untuk keluar menziarahi kedua ibu bapanya atau ingin melihat jenazah ibu atau bapanya atau anaknya (yang tidak tinggal bersamanya), maka suami berhak untuk tidak mengizinkan. Walau bagaimanapun dalam hal ini, adalah lebih utama jika suami mengizinkan isteri.

2. Enggan mengikut suami berpindah ke negeri lain tanpa ada keuzuran yang dibenarkan syara‘ seperti isteri sakit atau perjalanan menuju ke negeri tersebut tidak aman atau suami
berpindah ke negeri yang ditimpa wabak atau tha‘un.

3. Tidak membukakan pintu untuk suami masuk ke rumah atau ke bilik dengan tujuan menegahnya daripada masuk ke dalam rumah atau bilik.

4. Tidak menyerahkan diri pada suami (ketika suami berhajat kepadanya) tanpa ada keuzuran seperti sakit.

5. Tidak mengendahkan panggilan suami kerana sibuk dengan keperluannya.

6. Isteri mendakwa suaminya telah menthalaqnya sedangkan dakwaan tersebut adalah palsu.

Hukum Nusyuz Dan Kesannya

Para fuqaha bersepakat mengatakan bahawa isteri yang nusyuz terhadap suaminya hukumnya adalah haram, bahkan dia dilaknat kerana nusyuznya itu kecuali jika dia bertaubat.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya:

Quote
    “Apabila suami memanggil isterinya ke tempat tidurnya lalu isteri menolak untuk pergi (kepada suaminya), malaikat melaknatnya (isteri) sehingga (masuk) waktu pagi.”





Islam telah menggariskan beberapa tindakan yang boleh diambil oleh suami dalam menangani dan menghadapi masalah nusyuz isteri ini:


1. Ketika nampak tanda-tanda nusyuz pada isteri sama ada dengan perbuatan seperti isteri bermasam muka atau berpaling padahal kebiasaannya dia menampakkan muka yang manis kepada suaminya atau dengan percakapan seperti isteri menjawab suaminya dengan suara yang kasar padahal kebiasaannya dia bercakap dengan lemah lembut kepadanya, maka sunat ke atas
suami memberi nasihat. Ini adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya:
Quote
    “Dan perempuan-perempuan yang kamu bimbang melakukan derhaka (nusyuz) hendaklah kamu menasihati mereka.”


(Surah an-Nisa: 34)

Antara cara menasihati isteri yang ditakuti berlaku nusyuz sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama:

- Menasihati isterinya dengan berkata kepadanya:
Quote
    “Bertaqwalah kepada Allah pada perkara-perkara hak-hak yang wajib untukku ke atasmu dan beringat-ingatlah akan akibat jika engkau tidak melaksanakannya.”




-Menjelaskan kepada isteri bahawa nusyuz boleh mengugurkan (hak) nafkah dari suami dan hak giliran bermalam di rumah isteri bagi suami yang mempunyai lebih dari seorang isteri.

- Menyebut hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhusebagaimana yang disebutkan di atas mengenai isteri yang nusyuz.

- Adalah sunat juga bagi suami berbuat baik kepada isterinya itu dan mengambil hatinya dengan memberinya sesuatu.

2. Apabila berlaku nusyuz isteri, maka suami bolehlah mengambil tindakan dengan terus menasihati isterinya itu dan harus juga baginya untuk mengasingkan diri dari tempat tidur isterinya atau dengan kata lain, tidak tidur bersama-sama. Mengasingkan diri dari tempat tidur isteri adalah antara cara berkesan untuk menghukum isteri agar tidak mengulang perbuatan nusyuznya.

Jika nusyuz isteri berlaku berulang-ulang atau berterusan, maka suami boleh memukulnya dengan pukulan yang ringan (bukan penderaan) jika mengikut sangkaannya dengan pukulan itu dapat mendatangkan faedah iaitu isteri akan kembali taat kepadanya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya:

Quote
    “Dan perempuan-perempuan yang kamu bimbang melakukan derhaka (nusyuz) hendaklah kamu menasihati mereka, dan (jika mereka berdegil) tinggalkanlah (pulaukanlah) mereka di tempat tidur, dan (kalau juga mereka masih degil) pukullah mereka (dengan pukulan ringan yang bertujuan mengajarnya).”


(Surah an-Nisa: 34)

Walaupun suami dibenarkan untuk memukul isteri, namun Islam juga memberi garispanduan tentang cara memukul agar pukulan suami tidak mendatangkan mudharat kepada isteri, iaitu suami tidak boleh memukul isteri dengan pukulan keras, tidak boleh memukul pada wajah dan pada anggota-anggota isteri yang mudah cedera.

Tujuan pukulan tersebut adalah bagi maslahah suami sendiri iaitu supaya isteri kembali taat semula kepadanya. Oleh yang demikian, adalah lebih baik jika suami tidak memukul isteri jika dirasakan tidak perlu.

Para isteri perlu sedar akan tanggungjawab mereka menunaikan hak-hak suami. Selain dari mentaati suami, isteri wajib berlemah lembut dengan suami, menjaga perasaan suami, bersyukur dan menerima seadanya apa saja pemberian suami. Isteri dilarang meninggikan suara kerana walaupun perkara tersebut bukan dianggap sebagai nusyuz, akan tetapi ia boleh saja menjadi sebagai permulaan isteri berlaku nusyuz terhadap suaminya.

Isteri juga diperintahkan untuk menjaga kehormatan dirinya dan harta suami ketika ketiadaan suaminya kerana yang sedemikian itu adalah perilaku seorang isteri shalehah sebagaimana firman Allah

Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya:
Quote

    “Maka perempuan-perempuan yang shaleh itu ialah yang taat (kepada Allah dan suaminya), dan yang memelihara (kehormatan dirinya dan apa jua yang wajib dipelihara) ketika suami tidak hadir bersama, dengan pemeliharaan Allah dan pertolonganNya).”



(Surah an-Nisa: 34)

Sesungguhnya ganjaran Allah Subhanahu wa Ta‘ala terhadap isteri yang shalehah dan diredhai oleh suaminya adalah syurga yang penuh kenikmatan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan daripada Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha:

Maksudnya:
Quote
    “Setiap perempuan yang mati dalam keadaan suaminya redha kepadanya, maka perempuan itu akan masuk syurga.”


(Hadis riwayat at-Tirmidzi )

Sebagai seorang isteri, rebutlah peluang mudah untuk memasuki syurga iaitu dengan melaksanakan kewajipan terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan rasulNya serta dengan mentaati suami.


Injector Duty Cycle

Injector Duty Cycle You hear it all the time... but what exactly IS the Injector Duty Cycle and where do these numbers come from? It is r...